Kabupaten Jeneponto
adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.
Ibu kota kabupaten ini terletak di Bontosunggu. Kabupaten ini memiliki luas
wilayah 749,79 km2 dan berpenduduk sebanyak 330.735 jiwa, kondisi tanah
(topografi) pada bagian utara terdiri dari dataran tinggi dengan ketinggian 500
s/d 1400 m, bagian tengah 100 s/d 500 m dan pada bagian selatan 0 s/d 150 m di
atas permukaan laut. dan memiliki pelabuhan yang besar terletak di desa Bungeng. Dari sisi aksessibilitas, Kabupaten ini dapat ditempuh melalui laut, udara dan darat, dari jakarta menggunakan pesawat dari cengkareng Soeta ditempuh selama 2 jam 15 menit ke Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar, dari makassar ke Kab. Jeneponto dgn kendaraan roda 4 ditempuh selama +- 2 jam.
Morfologi Wilayah dari Kabupaten Jeneponto sebagai berikut ;
- Bagian utara terdiri dari dataran tinggi dan bukit-bukit yang membentang dari barat ke timur dengan ketinggian 500 sampai dengan 1.400 meter diatas permukaan laut .(Potensi : Hortikultura, Perkebunan dan Kehutanan).
- Bagian tengah meliputi wilayah-wilayah dataran dengan ketinggian 100 sampai dengan 500 meter diatas permukaan laut. (Potensi : Padi, Jagung, Palawija dan Peternakan).
- Bagian selatan meliputi wilayah-wilayah dataran rendah & Pesisir dengan ketinggian 0 sampai dengan 100 meter di atas permukan laut (Potensi : Perikanan, Tambak, Garam Rakyat, Padi, Jagung, Palawija).
- Memiliki panjang pantai hingga 114 Km
Ayam buras merupakan komoditas peternakan terbesar di Kabupaten Jeneponto dengan tingkat populasi sebesar 634.915 dan jumlah produksi 651.292 pada tahun 2009. Sedangkan untuk ayam ras petelur dan ayam ras pedaging menjadi komoditas penunjang ternak ayak di kabupaten tersebut karena jumlah populasinya yang lebih sedikit dari ayam bukan ras, dengan masing masing angka populasi adalah 58.478 dan 59.233 serta angka produksinya 55.361 dan 36.881. Untuk komoditas sapi potong jumlah populasi di kabupaten tersebut cukup tinggi, tetapi tidak sebanding dengan jumlah produksinya yang hanya 4.110, hal tersebut dikarenakan pada kabupaten tersebut kerbau lebih populer sebagai bahan pangan ataupun untuk acara adat, dengan jumlah populasi sebesar 8.071 ekor dan jumlah produksi 12.788. selain komoditas tersebut masih ada komoditas itik, kuda dan kambing.
Kelapa Dalam menjadi komoditas perkebunan utama di kabupaten Jeneponto, Kelapa Dalam memiliki prospek bisnis yang sangat bagus. Ini karena mulai dari batang hingga daun kelapa dapat dikelola dan dijadikan sebagai bahan baku industri rumahan. Nilai ekonomi komoditi kelapa sangat besar. Jangankan buah, dari batang hingga daunnya pun dapat dimanfaatkan dan bisa memberikan nilai tambah. Jika ini dimanfaatkan maksimal, bisa memberikan kesejahteraan bagi para petani di Kabupaten Jeneponto. Nilai Produksi Kelapa Dalam di kabupaten ini adalah 3403,5 dengan luas areal tanam seluas 5512,50. Selain kelapa masih ada komoditas perkebunan yang potensial di kabupaten Jeneponto, yaitu kopi arabika, jambu mete, kapuk dan jarak dimana nilai produksi masing masingnya adalah 1.297,09 , 977,49 , 488 dan 30,42 (dalam angka).
Pengembangan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) oleh Badan Litbang meningkatkan produktivitas tanaman pangan dan efisiensi input produksi. Pemanfaatan lahan kering untuk pemanfaatan tanaman jagung di kabupaten Jeneponto pada tahun 2009 sudah mencapai 90 persen dimana luas panen jagung adalah 43.693 Ha, hal tersebut membuat kabupaten Jeneponto menjadi salah satu sentra jagung terbesar sektor barat di provinsi Sulawesi Selatan. Untuk tanaman padi sawah, luas panen yang dimiliki kabupaten ini hanya sebesar 14.779 lebih kecil dibandingkan dengan luas panen jagung. Nilai luas panen yang kecil tersebut disebabkan oleh Permasalahan produktivitas, penyediaan benih unggul bermutu, dan implementasi teknologi.
Untuk sektor tanaman sayur dalam pertanian Kabupaten Jeneponto pada tahun 2009 produksi paling tinggi adalah bawang merah, nilai produksi perton-nya mencapai 700 +. Kemudian untuk wortel, kentang, kubis, petsai sawi dan tomat mencapai 100 hingga 200 ton lebih. Berbeda dengan bawang putih yang belum diketahui nilai produksinya.
Untuk sektor tanaman buah-buahan, Jeneponto memiliki banyak jenis buah yang di produksi di Kabupaten Jeneponto, luas panen paling di nominasi oleh Mangga, Pisang, dan Nangka. Alpukat dan Jeruk Siram juga memiliki luas panen tetapi masih perlu di perbanyak dan di perluas, sedangkan jeruk besar, durian, duku langsat dan nanas belum di ketahui jumlah luas panennya.
Sektor Perikanan pada tahun 2009 memiliki tingkat Produksi yang cukup tinggi, bisa di lihat pada bagian Perikanan Laut bahwa dengan sekitar 15 ribu ton nilai produksi bisa mencapai 100 juta, akan tetapi pada sektor laut nilai produksinya mencapai 2 kali lipat dari perikanan laut di Kabupaten Jeneponto.
Dari segi perikanan, Kabupaten Jeneponto lebih dominan memakai Perahu bermotor dari pada alat penangkap lainnya, tetapi para nelayan yang menggunakan perahu tak bermotor jumlah pemakaian alat penangkap ikan sangat tinggi. Dari nilai total perahu tak bermotor yang senilai 500 menggunakan alat penangkap ikan hingga 2500 lebih pemakainya.







